Tata Kelola PEP

PT Pertamina EP berkeyakinan bahwa penerapan prinsip-prinsip dan praktik terbaik GCG merupakan suatu keharusan dalam rangka mewujudkan visi menjadi “World Class Company”, yaitu dengan akan diperolehnya manfaat sebagai berikut :

  1. Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan.
  2. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ perusahaan.
  3. Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
  4. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan.
  5. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan pemangku kepentingan lainnya.
  6. Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional.

Penerapan Tata Kelola Perusahaan dengan standar tertinggi merupakan komitmen dari seluruh anggota Dewan Komisaris, Direksi dan pekerja PT Pertamina EP. Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik, yaitu keterbukaan, akuntabilitas, tanggung jawab, kemandirian dan kewajaran, telah tertanam dalam nilai-nilai perusahaan sekaligus menjadi Budaya Kerja Perusahaan.

Implementasi Tata Kelola Perusahaan PT Pertamina EP dilakukan melalui tiga tahap sebagai berikut:

  1. Comprehension  (Pemahaman secara mendalam).  Dalam tahap ini dilakukan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk diperolehnya pemahaman secara mendalam tentang prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan oleh Key Persons (Pemegang Saham, Dewan Komisaris, Direksi, Manajemen, Sekretaris Perusahaan, Satuan Pengawasan Internal dan Komite Etika & GCG ). Kegiatan tersebut meliputi:
    • Internalisasi GCG kepada manajemen
    • Dibentuknya Komite Etika & GCG
    • Training GCG kepada Komite Etika & GCG
    • Penyusunan kerangka dasar Etika Kerja & Bisnis
    • Dilakukannya pre- assessment GCG
  2. Consolidation  (Konsolidasi manusia dan sistem)  Dalam tahap ini terdapat dua unsur utama yaitu System dan Commitment. Sasarannya adalah “Pembangunan sarana dan prasarana Tata Kelola Perusahaan serta komitmen manajemen”. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi:
    • Penyusunan Etika Kerja & Bisnis
    • Penyusunan Board Manual
    • Pelaksanaan penilaian GCG oleh assessor independen
    • Pelaksanaan sosialisasi dan internalisasi GCG kepada manajemen
  3. Continuous Improvement  (Perbaikan terus menerus)  Unsur utama dalam tahap ini adalah belajar dan berbagi, dengan sasaran menjadi perusahaan yang memiliki kompetensi dalam praktek bisnis berdasarkan prinsip-prinsip GCG (GCG based competencies). Tahap ini berlangsung berkelanjutan dengan kegiatan meliputi:
    • Perbaikan praktek bisnis terus menerus berdasarkan prinsip GCG
    • Learning & sharing GCG
    • Internalisasi & sosialisasi GCG kepada seluruh manajemen dan pekerja
    • Assesment GCG secara rutin setiap tahun oleh lembaga penilai independen.

Saat ini Perusahaan berada pada tahap ketiga dan terus berupaya untuk mewujudkan target penerapan Tata Kelola Perusahaan yang baik yaitu diperolehnya hasil excellence dari hasil penilaian GCG. Target tersebut diharapkan bisa dicapai pada akhir 2015 melalui penilaian yang dilakukan oleh lembaga penilai independen. Saat ini Perusahaan sudah memperoleh kategori “SANGAT BAIK” dari hasil penilaian tersebut. Sejauh ini manfaat yang diperoleh Perusahaan atas penerapan GCG antara lain:

  1. Kejelasan tugas, kewenangan dan tanggung jawab antar fungsi baik di organ utama maupun organ pendukung. Hal tersebut mengarah pada iklim kerja dan budaya koordinasi yang lebih baik.
  2. Terciptanya komitmen bersama yang kuat dalam pencapaian visi perusahaan.
  3. Meningkatnya kepercayaan pemangku kepentingan yang dapat dilihat dari semakin baiknya hubungan Perusahaan dengan pemangku kepentingan utama seperti pemegang saham (PT Pertamina (Persero) serta manajemen SKKMIGAS maupun pemerintah (Dirjen Migas).
  4. Terciptanya iklim kerja yang kondusif yang mendorong pada peningkatan kinerja perusahaan, hal ini dapat dilihat dari meningkatnya angka produksi serta keuntungan perusahaan.