Wujudkan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Melalui Pengolahan Bandeng dan Bank Sampah

12 Februari 2016

Rengasdengklok – Kehidupan perekonomian masyarakat pesisir Jawa Barat selama ini ditopang oleh produksi pertaniannya sehingga menjadikan bertani sebagai salah satu mata pencaharian utama. Kondisi ini tidak selalu berujung pada kesejahteraan.

Masyarakat tidak sadar bahwa potensi untuk menciptakan peluang usaha tidak terpaku pada dunia pertanian ataupun bercocok tanam. Padahal peluang tersebut terbuka lebar bagi masyarakat seperti misalnya di bidang pertambakan atau pengolahan Ikan.

Masyarakat di Wilayah desa Dusun Cisoma, Desa Tambaksari, Kabupaten Karawang yang dikenal dengan kondisi perekonomian yang jauh dibelakang wilayah lain pun mulai berbenah dengan memulai usaha pengolahan Ikan Bandeng yang memang cukup banyak bisa ditemui di wilayah tersebut.

Kerja keras masyarakat pun menbuahkan hasil dengan mampu mengolah 150 Kg Ikan Bandeng menjadi berbagai produk makanan unggulan seperti sate bandeng, bandeng presto, nugget bandeng, baso, kaki naga, siomay, ekkado, dan otak-otak bandeng.

Selain itu, permasalahan sampah yang menjadi tantangan di Kabupaten Karawang turut menjadi potensi yang dapat diubah menjadi manfaat dengan program bank sampah.

"Kelompok pengembang bank sampah di karawang baru ada 2 kelompok. Salah satunya di desa nelayan Tambaksari Dusun Sarakan Kecamatan Tirtajaya Rengasdengklok yang semua anggotanya adalah perempuan", ujar Edi Kanedi Community Development Officer Yayasan Sekar Mandiri yang mendampingi warga untuk pelaksanaan program Bank Sampah.

Saat ini ada 25 KK yang tergabung dalam kelompok Bank Sampah ini. Dan mayoritas anggotanya adalah ibu - ibu istri para nelayan yang terlibat dalam kelompok bank sampah ini dipilih karena mayoritas ibu banyak waktu luang dan dapat membantu perekonomian keluarga.

"Pengalaman kami, ibu - ibu memiliki banyak waktu luang dan komitmen yang cukup tinggi terhadap program pemberdayaan. Dan rata-rata seminggu dari hasil sampah sebesar Rp 15.000 per orang atau sebesar Rp. 375.000 per kelompok, sebanyak 80 % diberikan kepada kelompok sementara 10% untuk pengurus, 5% untuk majelis taklim dan 5% sisanya digunakan sebagai kas anggota dan pengembangan kelompok", tambah edi.

Inisiatif para warga ini dilihat sebagai potensi dalam meningkatkan kemandirian masyarakat.

"Sejak tahun 2011 kami lakukan social maping oleh untuk meningkatkan kapabilitas masyarakat dengan melakukan pembinaan pemberdayaan untuk meningkatkan perekonomian" ujarnya.

Edi menjelaskan pada tahap awal pelatihan serta pembentukan kelompok usaha ditujukan untuk memupuk anggota binaan menjadi solid. "Kemudian diikuti dengan peningkatan produktifitas dan kualitas serta kemampuan entrepreneurship dan inovasi produk, yang nantinya akan terbentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai sentra olahan Ikan Bandeng dan Kelompok Bank Sampah" tambah Edi.

Saat ini produk olahan ikan bandeng telah dipasarkan keluar daerah, mulai dari Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, Bandung, dan Jakarta.

Sementara pemasaran untuk produk dari bank sampah sudah mulai dikenal oleh masyarakat dan diharapkan beberapa waktu ke depan semakin banyak warga yang bergabung dalam kelompok bank sampah.

Dan sebagai tindak lanjut mewujudkan sustainability program tersebut, sejak tahun 2015 PT Pertamina EP Tambun Field mulai menyusun strategi lanjutan dengan membentuk koperasi untuk memenuhi kebutuhan kelompok hingga nantinya terbentuk kemandirian masyarakat.

"Semoga upaya ini dapat mewujudkan kemandirian masyarakat", ujar Abdullah Tambun Field Manager.