11 Tahun Berkiprah Di Industri Migas, Pertamina EP Optimis Bisa Lalui Badai Anjloknya Harga Minyak Dunia

21 September 2016

Jakarta - Anjloknya harga minyak dunia sudah barang tentu memukul seluruh aspek dan pihak yang terlibat dalam industri emas hitam di seluruh dunia termasuk PT Pertamina EP. Namun demikian, anjloknya harga minyak dunia tidak membuat PT Pertamina EP yang merupakan backbond di sektor hulu Pertamina mengendorkan operasinya.

Rony Gunawan, Presiden Direktur PT Pertamina EP menyatakan bahwa kondisi sekarang perusahaan justru agresif mencari cadangan migas baru melalui kegiatan – kegiatan Eksplorasi, serta mempercepat progress berbagai proyek pengembangan yang saat ini sedang berlangsung.

"Ada CPP Donggi di Sulawesi Tengah yang telah Onstream pada April 2016, lalu serah terima CPP Gundih di JawaTengah kepada Cepu Field, dan serah terima Project Pondok Makmur di Bekasi kepada Tambun Field", kata Rony saat perayaan HUT ke 11 PT Pertamina EP di Jakarta (20/9).

Lebih lanjut, ia juga memaparkan saat ini juga tengah dikebut proyek lain seperti CPP Matindok di Sulawesi Tengah, Project Paku Gajah di Sumatera Selatan, dan Project Cikarang – Tegal Pacing dan diupayakan dapat onstream sesuai jadwal yang telah ditentukan. "Sehingga memberikan tambahan revenue untuk PT Pertamina (Persero) juga deviden bagi negara" tukasnya.

Sementara itu, Syamsu Alam Direktur Hulu Pertamina mengapresiasi kinerja PT Pertamina EP selama masa sulit ini. menurutnya strategi yang sudah dilakukan perusahaan cukup baik harus ditingkatkan terutama dari sisi pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produksi dari lapangan – lapangan  mature yang memang sudah menjadi domain PT Pertamina EP.

"Saya kira dengan harga minyak yang sekarang ini, kemudian juga kondisi lapangan-lapangan kita yang cukup marjinal, salah satu yang membuat semuanya bisa fight,cukup ekonomis adalah teknologi. Bagaimana kita memilih teknologi yang tepat bukan teknologi yang mahal" kata Syamsu.

Menurutnya penggunaan teknologi yang tepat bisa memberikan manfaat besar di lapangan minyak Pertamina karena tidak bisa terus menerus berharap kepada harga minyak yang akan naik lagi. Syamsu Alam juga berharap berbagai inovasi kreaitf harus terus digalakkan diseluruh lapisan perusahaan, ini sudah bisa terlihat dari implementasi di lapangan dan pencapaian kinerja perusahaan selama ini.

"Banyak inovasi yang sudah dilakukan contohnya di Wonocolo maupun di Ramba saya kira itu suatu yang sangat baik untuk terus dilakukan. Harus ada guidance jelas sehingga mungkin 10 tahun lagi, 15 tahun lagi Pertamina EP akan berdiri disitu, jelas arahnya sehingga semua pembinaan, program akan mengacu kepada milestone-milestone yang akan kita capai", papar Syamsu.

11 tahun berkiprah di industri migas tanah air, Pertamina EP memberikan kontribusi positif kepada masyarakat terutama yang berada disekitar wilayah operasi. Rony menyatakan kegiatan CSR dan pemberdayaan masyarakat dengan mekanisme pendampingan untuk memastikan agar masyarakat benar – benar memperoleh manfaat atas keberadaan perusahaan dengan mengoptimalkan potensi yang ada di sekitar mereka.

"Dengan begitu masyarakat diharapkan memiliki aktifitas positif dan memberi dampak ekonomi yang lebih baik, serta perusahaan mendapatkan Social License to Operate dari masyarakat"  kata Rony.

Kontribusi PT Pertamina EP tersebut diakui oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, pada tahun 2015. "Terdapat 2 lapangan PT Pertamina EP yaitu Rantau Field dan Subang Field memperoleh penghargaan PROPER Emas" tutup Rony. (wahyu)